December 22, 2014

Pemimpin Perang Wanita Pertama dari Aceh

Banyak yang tidak mengenal namanya, Meskipun namanya sudah melekat pada salah satu lambung kapal perang Indonesia KRI Keumalahayati. Sebelum munculnya nama-nama srikandi dari Aceh seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutiah dan lain-lain,  jauh sebelumnya Keumalahayati sudah menjadi srikandi yang luar biasa. Dan ketika dunia berteriak mengenai masalah gender atau kesetaraan, Nusantara ini sudah mempunyai Laksamana Perang Perempuan, dan bahkan disebut-sebut sebagai Laksamana Perang Perempuan Pertama di Dunia. Dialah Keumalahayati.
Sejarah tidak pernah mencatat secara pasti tahun kelahiran dan kematiannya, namun diperkirakan beliau hidup pada akhir Abad XV dan Abad XVI.
Kisah perjuangannya dimulai pada waktu terjadi peperangan di selat Malaka antara Portugis dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil dengan dibantu oleh dua orang laksamana. Pertempuran sengit di teluk Haru tersebut akhirnya dimenangkan oleh Kesultanan Aceh. Namun kemenangan ini dibayar mahal dengan banyaknya prajurit-prajurit Aceh yang meninggal, yang salah satunya adalah suami dari Keumalahayati sendiri yang menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud Dunia. Dan setelah suaminya gugur di pertempuran tersebut, Keumalahayati bertekad dan bersumpah akan melanjutkan perjuangan suaminya.
Dan untuk melaksanakan niatnya tersebut, Keumalahayati meminta kepada Sultan al-Mukammil untuk membentuk armada militer Aceh yang terdiri dari janda-janda yang suaminya gugur dalam perang Teluk Haru. Permintaan ini direstui oleh Sultan, dan berdirilah sebuah Armada Perang Perempuan yang diberi nama Inong Bale yang beranggotakan pada awalnya 1000 perempuan dan berkembang menjadi 2000 perempuan. Keumalahayati pada awalnya memiliki tugas sebagai juru runding dan diplomasi dalam urusan luar negeri, dan setelah sukses menjalankan tugasnya tersebut, Ia diangkat oleh Sultan menjadi Admiral dan merupakan perempuan pertama dari Aceh yang berpangkat Laksamana.
Sejarah mencatat, keberanian Keumalahayati dibuktikan pada salah satu pertempuran laut dengan memporak-porandakan kapal perang Belanda yang dipimpin oleh Jendral Cornelis de Houtman yang dikenal sangat kejam. Dan, sejarahpun mencatat bahwa Cornelis de Houtman tewas ditangan Keumalahayati pada waktu perkelahian satu lawan satu digeladak kapal pada tanggal 11 September 1599. Beliau juga sukses menghalau Portugis dan Inggris masuk ke wilayah Aceh.
Itulah Keumalayahati yang masuk dalam jajaran 'Srikandi dari Aceh'.



sumber : dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar Disini...