December 27, 2014

Pertumbuhan Bisnis Kartu Kredit di Indonesia

Mungkin kita pernah mendapat telepon dari bagian marketing bank yang menawarkan kartu kredit, dan bahkan di mall-mall sering kita jumpai petugas marketing menghampiri menawarkan pembuatan kartu kredit tersebut sambil membawa form aplikasi dengan iming-iming mendapatkan hadiah langsung (souvenir) dan lain-lain.
Mengapa bank-bank begitu gencar dalam memasarkan kartu kredit? tren & gaya hidup masyarakat saat ini yang salah satu faktor pemicu nya, kartu kredit sudah menjadi simbol & gaya hidup kaum urban akan kebutuhan dan kecepatan yang dapat dipenuhi teknologi serta manfaat oleh kartu kredit ini, bukan hanya itu saja melainkan prospek keuntungan tinggi yang akan di raih oleh industri perbankan.

Berapa sebenarnya penetrasi kartu kredit di Indonesia? menurut data publikasi MARS dalam Indonesian Consumer Profile 2013 yang lalu mencatat kepemilikan kartu kredit berdasarkan survey di 7 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar dan Banjarmasin) pada tahun 2012 adalah 3,4%, yang man penetrasi tertinggi tercatat di Makassar (7,6%) dan Jakarta (4,7%). Dari segi usia kepemilikan, pada kelompok usia 25-34 tahun adalah (4,4%) dan pada kelompok usia 35-55 tahun (3,8%). Pada segi sosial ekonomi A penetrasi tercatat 10,3% dan sosial ekonomi B (1,8%).

Penetrasi sebesar 3,4% pada tahun 2012 tersebut menunjukkan peningkatan 2x lebih besar dari tahun sebelumnya yaitu 2011. Di Jakarta terjadi peningkatan yang tajam dari 1,2% menjadi 4,7%.

sumber : Data MARS Indonesia

Sebenarnya yang menjadi sasaran pihak perbankan bukan sebanyak apa kartu kredit yang beredar, melainkan pasar potensial (potential market) itu sendiri. Dari total jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah kira-kira 250 juta jiwa, jika yang berpotensi asumsinya 10% itu berarti 25 juta nasabah. Jika menggunakan total transaksi tahun 2012 yakni 189 trilyun rupiah, dan jika pihak perbankan mengambil fee keuntungan 1% saja dari penyediaan mesin gesek, itu berarti masuk kekantong bankir sudah 1,9 trilyun rupiah. Dan perlu di ingat bahwa charge 3% yang sering kita temui pada setiap transaksi gesek kartu kredit sebagian diterima oleh pihak merchant bank rata-rata 0,5% - 2% , atau diambil rata-rata 1%.
Belum lagi biaya iuran tahunan (annual fee) yang kita ambil rata-rata Rp. 100.000 per-kartu, jika industri perbankan berhasil menguasai pasar 10% saja atau 25 juta nasabah maka pemasukan rutin pertahun dari bisnis kartu kredit adalah 2,5 trilyun rupiah. Dengan adanya 20 bank penerbit kartu kredit, maka rata-rata tiap bank akan mendapat pemasukan rutin 125 milyar rupiah pertahunnya. Belum termasuk dari biaya penarikan bunga, biaya keterlambatan pembayaran (dunning fee), biaya penarikan tunai, biaya over limit dan biaya pergantian kartu. Menakjubkan !





sumber : MARS Indonesia | www.marsindonesia.com

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar Disini...