December 23, 2014

Prospek Usaha Mikro (UMKM)

     Seperti diketahui, Indonesia sempat beberapa kali mengalami krisis ekonomi, medio 1997/1998 - 2008/2009 dan pada tahun 2011 yang lalu. Namun yang paling parah adalah pada krisis ekonomi tahun 1997/1998 yang menyebabkan beberapa bank tutup, perusahaan-perusahaan banyak yang gulung tikar, pengangguran dimana-mana dan puncaknya menyebabkan runtuhnya kekuasaan Orde Baru.
Namun dalam kondisi yang tidak menentu tersebut, prospek usaha Mikro masih tetap bersinar, Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) justru menjadi salah satu penopang perekonomian Nasional maupun Regional, dan sampai saat ini bahkan cenderung menanjak. Selain populasinya yang besar ( sekitar 55juta unit pada medio 2011 yang lalu), perhatian pemerintah tidak henti-hentinya terhadap sektor ini. Karena daya tahannya terhadap terpaan krisis, dan tingkat kredit macetnya yang relatif rendah dunia perbankan semakin memberikan support pula terhadap sektor UMKM ini.
Namun jika di teliti, siapa sebenarnya pelaku usaha UKM di Indonesia ini? berdasarkan survey MARS pada awal 2012 yang lalu, para pelaku usaha ini bervariasi dalam tingkat usia dan rata-rata telah terjun dari usia yang relatif masih muda  antara 17-20 tahun, walaupun skalanya masih berkisar 0,6%. Tapi mayoritas pelaku UKM ini berada dalam rentang usia produktif (31 - 45 tahun) yang populasinya mencapai 57,5%, sisanya usia 46 - 55 tahun (28,5%), dan usia 17 - 30 tahun ( 14%).
Ini menunjukan, bahwa minat usia kalangan muda ( 17 - 30 tahun) pada sektor UKM masih terlalu sedikit, karena kebanyakan dari kalangan muda ini tertarik untuk menjadi pegawai negeri ataupun swasta dengan pendapatan bulanan dari pada menjadi entrepreneur.
Jika ditelusuri, pelaku UKM pada usia produktif dan muda tersebut rata-rata berasal dari kalangan usaha kecil , dan untuk usia tua mayoritas kalangan usaha menengah.
Dilihat dari latar pendidikannya, berdasarkan survey mayoritas pelaku UKM berasal dari tingkat pendidikan Tamatan SMA/ lulusan SMA dengan skala 45,8%. Lulusan Sarjana dan Pasca-Sarjana sekitar 22,1%, Tamatan Diploma/Akademik 10,5% , dan jebolan SMP kebawah hanya 11,5%.


Dilihat dari kota penyebarannya, terdapat 4 kota yang memiliki pelaku UKM jebolan SMA keatas terbanyak, yaitu Medan (89,6%), Yogyakarta (88,3%), Makassar (82,5%) dan Surabaya (81,6%). Sebaliknya kota yang memiliki pelaku UKM dengan latar belakang pendidikan jebolan SMA kebawah terbanyak adalah Jabodetabek (32,8%), Semarang (32%), Solo (22,8%), dan Bandung (22,6%).

Berdasarkan kategori usaha, para pelaku UKM dengan tingkat pendidikan jebolan SMA keatas terbanyak berasal dari kalangan usaha menengah (80,2%) dan sisanya dengan latar tingkat pendidikan SMA kebawah.

Dengan data-data seperti ini, kita tidak bisa memandang sebelah mata para pelaku UKM di negeri ini, mengingat mereka bisa baca tulis dan aware dengan komputer walaupun masih sulit mengakses perbankan.



sumber : MARS Indonesia | www.marsindonesia.com

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar Disini...