16 Januari 2015

Garasi - Titik Awal Kesuksesan YOUTUBE

Pada tanggal 9 Oktober 2006, dari Mountain View - California, satu berita besar tersebar ke seluruh dunia. Semua rumor dan dugaan yang beredar pada waktu itu segera terjawab. Hampir semua media massa dari seluruh dunia meliput berita ini. Hari itu, Google Inc..perusahaan search engine terbesar di dunia mengumumkan bahwa mereka akan meng-akuisisi sebuah perusahaan yang didirikan oleh tiga orang anak muda yaitu YOUTUBE. Sebuah perusahaan penyedia layanan jasa bagi orang-orang yang ingin melihat dan berbagi video mereka melalui internet. Harga yang ditawarkan sangat bombastis, mencapai 15,67 Trilyun Rupiah! dalam bentuk saham.
     Youtube memang menjadi sebuah fenomena dan menjadi ikon pada saat ini dalam dunia internet, dan tahukah Anda bahwa pada waktu Google Inc meng-akuisisi nya, youtube baru dikembangkan selama lebih kurang 21 bulan! Kenapa raksasa ini berani mengambil keputusan ini ? Jawabannya bisa dilihat pada saat sekarang, hampir semua orang dijagad ini yang mengenal internet akan tahu manfaat dari youtube. Tetapi, siapa sebenarnya orang yang berada dibalik kesuksesan youtube ini? mari kita pelajari awal pendiriannya.
     Youtube didaftarkan pertama kali dengan nama domain YouTube.com pada tanggal 15 Februari 2005. Situsnya sendiri mulai dibangun beberapa bulan setelahnya. Tiga orang anak muda: Steve Chen, Chad Hurley dan Jawed Karim awalnya menjadikan garasi milik dari salah satu dari mereka untuk dijadikan kantor sementara di Menlo Park. Garasi tersebut sangat sederhana, walaupun tidak besar tetapi dapat menampung beberapa komputer sekaligus. Lalu pada bulan Mei 2005, YouTube akhirnya di launching ke publik, awalnya hanya sekedar situs preview-nya saja. Dan enam bulan berikutnya baru memulai debutnya.
Garasi tampaknya menjadi tempat untuk mengawali kesuksesan seperti itu, kita masih ingat sejarah awal seperti Apple, Microsoft, eBay dan Hawlet Packard yang memulai debut usahanya dari sebuah garasi, sehingga salah satu media ternama di Amerika Serikat mengatakan bahwa "langkah memulai usaha dari garasi sebagai langkah-langkah malaikat karena sangat sederhana, sekaligus sangat dekat dengan aroma kesuksesan".
     Dalam waktu relatif singkat, YouTube menjelma dan berkembang menjadi besar, situs tersebut memperoleh gelombang publikasi awal ketika menampilkan video singkat berjudul lazy sunday yang diambil dari acara populer Saturday Night Live.

Itulah Kesuksesan 3 orang anak muda membangun sebuah kerajaan bisnis raksasa berawal dari sebuah kesederhanaan.

15 Januari 2015

Trik Pemasaran dalam meledakkan Omzet bag-1

Promosi dan pemasaran merupakan hal yang penting dalam sebuah bisnis atau usaha. Produk yang bagus belum tentu laku apabila pemasaran dan promosi yang dilakukan salah!. Kita yakin, banyak sekali burger yang lebih enak dari pada McDonald's tetapi sampai saat ini burger-burger enak tersebut dalam hal segi penjualan belum sampai melebihi penjualan burger milik McDonald's tersebut.
Produk yang bagus bisa saja gagal dipasaran. Kesalahan bisa saja terletak dari segi pemasaran produk itu sendiri, atau bisa jadi karena sipenjual tidak mengetahui segmen mana saja yang cocok untuk ditawarkan.
Untuk itu, mari kita bahas bagaimana langkah-langkah pemasaran dan promosi yang tepat dan luar biasa dalam sebuah usaha.

  • Segmentasi, Targeting, Positioning

Sebelum membuka lahan usaha, kita harus tahu dulu siapa yang akan menjadi calon pembeli produk atau jasa yang akan kita jual. Untuk itu, terlebih dahulu kita melakukan SEGMENTASI. Dalam segmentasi, tugas kita hanyalah mengetahui kelompok-kelompok calon pembeli / pelanggan.
  1. Status ekonomi sosial
  2. Geografis dimana konsumen tinggal
  3. Wilayah pemasaran
  4. Demografis (kelompok umur dan jenis kelamin)
  5. Dan, yang paling penting adalah Gaya Hidup
Dalam melakukan segmentasi, kita jangan hanya berdasarkan Status Ekonomi Sosial saja atau Umur. Terkadang umur yang sama bisa saja memiliki kebiasaan dan gaya hidup yang berbeda, misalnya remaja. Remaja sendiri terkadang mempunyai gaya hidup yang berbeda-beda seperti ada remaja yang suka dugem dan glamour atau ada remaja yang suka dengan tantangan, dan ada juga remaja rumahan.
     Dalam melakukan segmentasi tersebut, kita perlu menguji:
  • Apakah segmennya cukup besar? dan seberapa besar segmen tersebut.
  • Bagaimana daya belinya? dan seberapa besar daya belinya.
  • Apakah sudah ada pesaing yang menguasainya?
  • Apakah segmen tersebut bisa loyal?
  • Apakah segmen tersebut bisa dijangkau?
Setelah melakukan pengujian seperti yang tersebut diatas, timbul pertanyaan lanjutan yaitu: apakah kita mampu melayani segmen tersebut? dan apakah kita cukup mempunyai sumber daya untuk melayani segmen tersebut?, jika belum kita perlu melakukan TARGETING!.
Targeting adalah: "Proses pemilihan prospek terbaik untuk produk atau jasa (target pasar) usaha dan berkonsentrasi pada upaya untuk memberikan perusahaan / usaha kesempatan terbaik untuk sukses".
Evaluasi segmen pasar untuk penargetan : 
  1. Ukuran segmen dan pertumbuhannya.
  2. Tujuan dan sumber daya.
  3. Struktur
Artinya: jika kita mempunyai sebuah produk atau jasa yang cukup berkualitas dan memiliki sumber daya dalam membuatnya, kenapa kita tidak membidik kalangan atas? dan begitu pula sebaliknya, jika kita hanya mempunyai produk atau jasa dengan kualitas pas-pasan jangan coba-coba menawarkan produk untuk kalangan atas.
     Setelah kita melakukan segmentasi pasar serta menentukan bidikan target pasar usaha, langkah selanjutnya yang masih satu paket dengan ini adalah: POSITIONING!.
Positioning adalah : Tindakan merancang penawaran produk usaha sehingga mendapatkan tempat yang berbeda & dihargai dalam pikiran konsumen. Artinya, kita harus memposisikan produk dalam benak konsumen agar terlihat lebih berbeda, lebih unggul dan lebih unik dari pesaing.
Penempatan tersebut tidak sembarangan. Dalam penempatan ini, produk kita harus diposisikan relatif lebih unggul dari kompetitor. Walaupun produk sama, namun bisa berbeda dari: kemasan, bentuk, rasa, cara pelayanan, keunikan, dll.



/Bersambung..bagian-2

6 Januari 2015

Pentingnya Peran Marketer

Marketing memiliki peran yang sangat penting dalam 'menggelindingkan' roda bisnis yang menguntungkan perusahaan. Kenapa? Karena produk yang berkualitas dan pelayanan yang memuaskan, seakan sia-sia tanpa diketahui oleh pasar. Disinilah peran penting marketing bagi perusahaan untuk menempatkan suatu produk di pasar agar mudah diketahui oleh konsumen. Seorang marketer harus mempunyai kiat-kiat yang jitu untuk dapat menembuskan dan mengembangkan produknya dipasaran, apalagi di tengah persaingan yang semakin tinggi pada era pasar global saat ini. Disamping ide kreatif dan inovasi yang harus selalu timbul dalam jiwa seorang marketer, dunia marketing sangat dekat dengan media dan alat promosi yang membutuhkan desain, untuk itu mau tidak mau desain merupakan salah faktor pendukung yang harus dikuasai oleh seorang marketer untuk dapat menjalankan (strategi) marketingnya, dan kalau strateginya bagus tetapi 'desain' tidak mendukung maka komunikasi (pesan) terhadap konsumen kemungkinan bisa gagal, sehingga ber-efek terhadap target penjualan yang tidak tercapai.
     Hal lain yang perlu di kuasai oleh seorang marketer adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu yang berbeda, baik dari segi menjual maupun dari cara pendekatan terhadap konsumen. Pendekatan yang utama harus dilakukan adalah bagaimana dapat meluangkan waktu sebanyak-banyaknya terhadap 'klien' dan total dalam pelayanan, Karena seorang marketer berbeda dari seorang sales dalam pengertiannya. Perbedaannya adalah seorang sales, menjual sebanyak-banyaknya tanpa melihat kepuasan pelanggan sedangkan seorang marketer akan menjual produk sebanyak-banyaknya dari kepuasan pelanggan.
     Untuk dapat menjalankan & menerapkan semua strategi dan prinsip-prinsip marketing tersebut, seorang marketer harus menguasai makro dan mikro ekonomi pasar. Serta yang terpenting adalah sebuah integritas!

5 Januari 2015

Inovasi Tiada Henti

Inovasi merupakan syarat utama bagi pelaku bisnis dalam bidang apapun agar dapat diterima oleh konsumen serta tetap eksis dalam persaingan mengingat kondisi market yang selalu berubah-ubah. Walaupun demikian, untuk menggapai semua itu tidaklah mudah, lantaran pelaku bisnis dituntut untuk lebih fokus dan konsisten dalam memberikan nilai lebih kepada konsumen.
     Hakikat inovasi adalah memberikan sesuatu yang baru kepada market, namun yang membedakan setiap inovasi terletak dari pengertian seberapa baru inovasi tersebut diciptakan dan bagaimana cara penerapannya. Selain itu, inovasi harus memiliki kesepakatan antara pelaku bisnis dan pasar bahwa ada nilai lebih yang ditawarkan dan dapat diterima bersama. Menurut pengamat pemasaran, Adnan Purinto "Perusahaan harus menciptakan inovasi yang memberi manfaat besar dan dirasakan secara langsung oleh konsumen".
Bila dicermati, inovasi yang dilakukan para pelaku bisnis di Indonesia saat ini masih cenderung ke arah produk. Hal ini di dorong oleh pola pikir bahwa segala sesuatu soal inovasi harus terlihat nyata dan mudah dicerna, sehingga perusahaan lebih cenderung melakukan dalam bidang itu supaya mudah diterima oleh konsumen. Padahal inovasi bukan hanya sebatas itu, peluang inovasi masih sangat luas  bukan hanya dilihat dari segi produk atau teknik pengemasannya saja, tetapi dapat dilihat dari cara menciptakan pasar dan bisnis proses serta strategi harga yang baru, demikian tambah Adnan Purinto lagi.
     Sebenarnya inti dari semua kegiatan marketing yang bisa meningkatkan nilai perusahaan inilah yang disebut inovasi. Adnan menyarankan bila ingin melakukan inovasi dengan baik, setiap pelaku bisnis harus sering melihat implementasi sebuah inovasi pada industri yang lain, jangan hanya terpaku pada praktek bisnis yang sama, karena terkadang ide inovasi yang baik datang dari bidang industri yang lain.
Para marketer harus banyak berinteraksi dan bersosialisasi dengan marketer industri lain, guna menghasilkan inovasi yang baik dan tepat.





Sumber: Adnan Purinto - Pengamat Pemasaran | Majalah Marketing

3 Januari 2015

Tipe - Tipe Kepemimpinan

Menyambung pembahasan sebelumnya mengenai Jiwa Kepemimpinan, berikut ini saya membahas mengenai tipe dari kepemimpinan itu sendiri dari sudut pandang sales & marketing.
  • Kepemimpinan berdasarkan Prestasi
Pada tingkat kepemimpinan ini, para bawahan mengikuti si pemimpin berdasarkan kekaguman atas prestasi sang pemimpin di perusahaan. Pada tingkat kepemimpinan ini, kerja begitu menyenangkan, tantangan-tantangan kerja terlihat sebagai kesempatan-kesempatan, dan lingkungan kerja umumnya stabil. Kunci untuk menjadi tipe kepemimpinan ini adalah keberhasilan tim untuk mencapai sasaran yang direncanakan bersama. Prestasi dibuat dengan cara membangun kekaguman pengikut-pengikutnya berdasarkan kerberhasilan mengeksekusi tugas-tugas anggota tim dan memberikan hasil yang optimal. Tipe kepemimpinan seperti ini menyerupai tipe karismatik. Kata-katanya yang bijak menjadi panutan bagi setiap anggota, kesuksesan menjadi contoh yang bisa menginspirasi para bawahan. Dan dalam tingkatan kepemimpinan seperti ini biasanya mempunyai gaya yang unik dalam 'menjual'. Karena karakternya yang unik tersebut, tidak semua anggota tim bisa mengikuti gaya menjualnya, hal ini dipengaruhi oleh faktor kepribadian yang berbeda-beda dari setiap orang.
  • Kepemimpinan berdasarkan pengembangan SDM
Pada tingkatan ini, para anggota mengikuti si pemimpin berdasarkan hasil dari apa yang dilakukan sang pemimpin kepada anggota. Semua pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan sumber daya manusia seluruh bawahannya. Kunci untuk menjadi tipe kepemimpinan ini adalah, bagaimana sang pemimpin mampu mengembangkan SDM bawahannya.
     Sales leader ditingkat ini tidak hanya melihat para salesman sebagai orang-orang yang mampu mencapai target, melainkan sebagai orang yang mempunyai potensi sangat besar, orang yang bisa dikembangkan, dan menginspirasi mereka untuk selalu mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Pemimpin menginginkan bawahannya menjadi baik dan semakin baik. Pemimpin ini menginginkan agar bawahannya bisa mencapai performa yang lebih tinggi. Pemimpin ini ingin memoles bawahannya agar bisa mencapai karir yang lebih tinggi, bahkan menjadi sales manager dan sales leader seperti dirinya.
  • Kepemimpinan dari Pengajaran
Tingkat kepemimpinan inilah yang paling sulit. Hanya orang-orang tertentu yang mampu mencapai tingkat kepemimpinan ini. Pada tingkatan ini, orang-orang mengikutinya karena pengajarannya yang luar biasa. Orang akan tetap mencari pemimpin ini walaupun sudah  tidak bekerja lagi di perusahaan tersebut. Kunci untuk mencapai tipe kepemimpinan ini adalah : mengajar, memberi inspirasi, bertanggung jawab jika anak buah tidak mencapai target, mengumumkan kesuksesan anak buahnya pada orang lain, dan jika perlu berkorban bagi kesuksesan anak buahnya.
     Pemimpin ini selalu memberikan ilmu kepada bawahannya supaya mempunyai kemampuan menjual dan mindset yang tepat untuk menjadi penjual yang sukses, dan yang lebih penting lagi menjadi supervisor, manager, dan pemimpin pada masa yang akan datang.
Menjadi seorang sales leader atau pemimpin secara umum adalah tentang 'melayani', dan sales leader yang hebat 'melayani' timnya.
Pemimpin adalah orang yang peduli terhadap bawahannya dan mau meluangkan waktunya untuk membina semua bawahan yang berada dalam tanggung jawabnya.
Hal ini tidak hanya membutuhkan kemampuan, pengetahuan, waktu dan tenaga, tapi juga memerlukan 'hati'.




sumber : James Gwee T.H, MBA

Mendahulukan Pekerjaan Mendesak atau Yang Penting ?

Tulisan ini saya angkat ke blog ini, karena lingkup pekerjaan saya cukup sering dihadapkan dengan situasi seperti ini.

     Sebagai distributor atau wiraniaga kita selalu dihadapkan pada setumpuk pekerjaan yang harus dituntaskan setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulan. Pekerjaan itu berupa proses kerja mencapai sales target, melakukan kunjungan ke pelanggan, mencapai target effective call, menyusun daily sales coverage plan, membuka/menambah pelanggan baru, meningkatkan produktivitas pelanggan, membangun hubungan baik dengan pelanggan, atau menuntaskan rencana pembelian barang dari principal, dan ratusan jenis pekerjaan atau tugas lain.
     Sebagai pemilik usaha atau pimpinan puncak manajemen, ataupun sekedar staf atau karyawan, kita umumnya memiliki tiga jenis tugas, yaitu tugas yang bersifat teknis, taktis, dan strategis. Semakin tinggi jenjang kepangkatan atau jabatan seseorang, alokasi tugas akan lebih banyak mengarah ke tugas-tugas yang bersifat strategis, berdampak tinggi, lintas sektoral, fungsional, dan mencakup areal yang amat fundamental bagi survival, dan perkembangan perusahaan. Apabila kita berada pada posisi menengah organisasi sebagai penyelia atau seksi/departemen unit manajer, semakin banyak porsi pekerjaan yang bersifat taktis, yang merupakan kombinasi setengah teknis atau setengah strategis dalam tatanan teknis operasional, namun selalu bersifat unit kerja, atau bidang fungsional marketing, sales, promosi, distribusi, layanan pelanggan. Semakin rendah posisi kita, alokasi tugas atau pekerjaan kita akan semakin teknis.
     Tindakan apa yang akan kita ambil agar menjadi distributor atau sales yang sukses? Mendahulukan pekerjaan yang mendesak atau pekerjaan yang penting? Kalau dihadapkan dengan pertanyaan ini, mayoritas akan menjawab mendahulukan pekerjaan yang mendesak. Bersifat mendesak karena ada tengat waktu yang harus dipenuhi:

  • Kalau kita tidak menyelesaikan, maka beresiko dianggap tidak menjadi team player, tidak kooperatif, atau tidak suportif karena pekerjaan orang lain akan terhambat.
  • Dalam kondisi terdesak, rekan kerja cenderung sensitif, mudah panik dan kehilangan fokus serta konsentrasi yang bisa menimbulkan konflik.
  • Kita cenderung menganggap semakin banyak pekerjaan yang dapat kita selesaikan akan semakin dinilai berprestasi oleh atasan. Intinya kita lebih menghargai penuntasan pekerjaan dari aspek kuantitatif dari pada aspek kualitatif.
  • Akibat banyaknya pekerjaan mendadak yang datang ke meja kita yang harus diputuskan cepat / segera, namun karena ada pihak ketiga atau pemegang kepentingan lain menyalip saat kita sedang menyelesaikan pekerjaan sendiri, dan mereka meminta untuk menyelesaikan tugas lain karena bersifat segera.
  • Tanpa disadari, setiap bagian penjualan dan distribusi selalu dikejar dengan siklus target bulanan-entah itu target penjualan, target laba sehingga semua pekerjaan dipersepsikan harus tuntas sebelum tanggal 31 sebagai cut-off date nya, sehingga minggu IV dijadikan ajang penyelesaian tugas secara tergesa-gesa/ secepatnya agar selesai.
Melihat faktor-faktor diatas, tentu sah-sah saja apabila kita cenderung lebih menyelesaikan tugas-tugas yang mendesak. Namun, apakah itu berarti kita bekerja secara Pintar/Cerdik (work smart)?, apakah kita bekerja secara efektif? apakah berarti kita fokus dan terkonsentrasi dalam merealisasi rencana dan strategi bekerja kita?.
     Kita cenderung terjebak bekerja dalam konteks teknis dan taktis dari pada strategis. Kita mendahulukan penuntasan kuantitas penyelesaian tugas dari pada kualitas hasil kerja. Semua perhatian hanya mengarah kepada sales report dan pencapaian sales target (hasil akhir) dari pada memikirkan soal how to, strategi, maupun taktis yang tepat mencapai peningkatan pangsa pasar (proses kerja).
     Seorang pimpinan / eksekutif pada era modern ini dituntut lebih berpikir strategis, kritis, antipatif dan analitis agar bisa menelurkan keputusan-keputusan /problem solving yang jitu dan membuahkan gagasan yang kreatif dan inovatif, serta mampu membuat terobosan-terobosan yang bersinergi. Inilah pekerjaan yang Penting, ini yang harus didahulukan. Pekerjaan penting membutuhkan proses analis/berpikir/berkontemplasi yang relatif lama dan harus berkonsultasi,berkoordinasi, atau berdiskusi dengan banyak pihak.

Kesimpulannya :     work hard is a start, work smart takes you to the winner's podium (bekerja keras adalah langkah awal, bekerja cerdas/pintar akan mengantarkan Anda sebagai pemenang),




Diangkat dari tulisan : Bapak Yadi Budhisetiawan - Managing Director Force One | Majalah Marketing edisi 12

2 Januari 2015

Jeli Menggali Kebutuhan Pelanggan

Seperti diketahui, pengertian market driving adalah: kemampuan perusahaan untuk menciptakan, menggerakkan, dan meng-edukasi pasar melalui sebuah produk yang dihasilkan. Namun dalam pengertian produk tersebut, berarti harus menghasilkan kategori baru, tetapi memunculkan gairah baru dalam pasar meskipun dalam satu kategori yang ada, ini sudah bisa dikatakan sebagai market driving. Para marketer yang ingin menjadikan produknya sebagai driving market harus memiliki memiliki beberapa persyaratan yang salah satunya adalah mendengarkan dan mengamati konsumen. Namun, yang perlu diperhatikan adalah tidak memaksakan produk tersebut ke pasar.
     Terkadang konsumen justru tidak mengetahui kebutuhan yang diperlukan. Termasuk kebutuhan jangka pendek dan kebutuhan jangka panjang. Dan, disinilah peran marketer untuk menemukan produk atau jasa apa saja yang dibutuhkan oleh konsumen, demikian ucapan salah satu pengamat marketing Ignas G. Sidik. Proses mendengarkan dan mengamati merupakan modal awal untuk mendapatkan Customer Insight. Tentunya yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan data-data yang memungkinkan untuk menciptakan, mengembangkan dan mempertahankan yang ada.
     Jeli, merupakan faktor yang paling penting bagi seorang marketer, hasil customer insight yang mendalam akan menentukan peluang-peluang bisnis yang ada. Namun, menjadi market driving tidak harus dimulai dengan sesuatu yang luar biasa dan baru, sesuatu yang sederhana dan modifikasi yang ada pun tidak menjadi masalah, yang penting harus memperhatikan kualitas produk tersebut.
     Unsur imajinasi dalam membuat produk juga merupakan sesuatu hal yang perlu dilakukan, tetapi itu bukan sesuatu yang wajib, yang penting adalah kejelian para marketer melihat kondisi pasar dan kebutuhan konsumen, karena untuk mendapatkan customer insight merupakan sesuatu yang mutlak. Tentunya tidak mudah untuk membentuk pasar baru, apalagi menggerakan pasar tersebut. Ini dilihat dari faktor kendala yang dihadapi oleh marketer, yakni keterbatasan dalam melihat customer insight dari sudut pandang konsumen dan pasar itu sendiri. Sejatinya, konsumen tidak mengetahui kebutuhannya tanpa observasi dan riset yang dilakukan marketer itu sendiri.
Sebaiknya perusahaan memiliki sumber daya alam (SDM) yang khusus menggali customer insight. Karena tidak cukup dengan hanya mengikuti langkah-langkah yang dilakukan kompetitor karena kondisi pasar yang selalu berubah-ubah, jika hanya mengikuti saja tanpa ada teori dan ilmu, perusahaan tidak akan dapat mengejar persaingan dan tidak akan mungkin menjadi market driving.





sumber: tulisan Ignas G Sidik - Pengamat Marketing di Majalah Marketing

Membangun Tim Kerja Yang Unggul

Tumbuhkan komitmen !
Itulah kata kunci yang tepat dalam membangun dan mengembangkan sebuah organisasi perusahaan. Ya, komitmen adalah bahan baku dalam membangun kerjasama tim dalam bidang apa saja agar sebuah organisasi tetap kokoh. Tanpa adanya 'komitmen', kerjasama tim apapun tidak akan menghasilkan output yang optimal.
     Mengapa komitmen begitu penting? karena setiap orang mempunyai kesibukan dan memiliki tugas dan prioritas dalam agendanya masing-masing. Pekerjaan tim hanya akan diletakkan dalam daftar panjangnya prioritas tadi, kecuali ia menemukan alasan untuk benar-benar berkomitmen kepada tim serta tujuannya. Tanpa komitmen, mereka tidak akan sepenuhnya berpartisipasi dalam tim.
Ada dua bagian dalam berkomitmen ini. Pertama, seseorang harus memiliki komitmen kepada tim dan tujuannya, dan Kedua, mereka harus memiliki komitmen untuk individu-individu yang ada dalam tim tersebut. Mereka harus memiliki kepercayaan kepada para anggota yang ada dalam tim terlebih dahulu, baru kontribusinya akan muncul setelahnya.
     Ada perbedaan antara menyukai individu dan menyukai tim, dan ada perbedaan besar antara berkomitmen untuk orang-orang didalam tim dengan berkomitmen untuk pekerjaan dan tujuan dari tim itu sendiri. Keduanya diperlukan. Mengabaikan fakta ini, resiko yang timbul akibat kelalaiannya sangatlah besar bagi seorang pemimpin. Mengapa demikian? Karena salah satu tugas dari seorang pemimpin atau manajer dalam level apapun adalah membangun atau mengembangkan tim unggulan. Membentuk tim, mengembangkan dan mempertahankannya adalah sebuah pekerjaan yang rumit bagi seorang pemimpin karena banyak faktor yang mempengaruhinya, tapi pentingnya membangun sebuah komitmen merupakan sebuah keharusan.
     Lalu, faktor apa saja yang membangun komitmen individu yang berada dalam sebuah tim? Antara lain:

  • Kepercayaan / trust

Kepercayaan yang harus dibangun dalam sebuah tim adalah kepercayaan yang bersumber dari : Pertama, kepercayaan antara atasan terhadap bawahannya. Kedua, kepercayaan antara bawahan terhadap atasannya. Dan ketiga, kepercayaan antara sesama anggota tim. Dan ketika kepercayaan tumbuh dan harmonisasi hubungan mulai terjalin, maka hubungan antar individu semakin erat, motivasi akan meningkat, dan komitmen pun mulai terbentuk. Untuk memulainya, pemimpin berperan penting dalam membangun kepercayaan ini.

  • Kesepakatan

Kesepakatan dibuat pada dasarnya untuk mengatur perilaku seseorang atau sekelompok orang agar tercipta harmonisasi dalam rangka mencapai tujuan bersama. Kesepakatan yang baik adalah kesepakatan yang diterima oleh tim, dengan demikian satu sama lain bisa saling menjaga dan mengingatkan jika ada yang melanggar, apalagi yang hendak keluar dari kesepakatan itu. Guna membangun komitmen yang tinggi sebagai pemimpin, kita harus melibatkan seluruh anggota tim untuk berkontribusi dalam memberikan ide maupun sumbangsih lainnya, dan ketika kesepakatan itu telah ditetapkan, tugas pemimpin adalah mengatur ritme agar setiap anggota berpegang teguh dalam menjalankan kesepakatan tersebut. Dan, dalam hal ini pemimpin wajib memberikan teladan kepada anggotanya, karena jika pemimpin sudah melanggar sendiri komitmen, maka dipastikan anggota yang lain akan ikut. Dan, cara tercepat untuk merusak komitmen adalah dengan melanggar kesepakatan yang telah ditetapkan.

  • Kerjasama 

Kerjasama dan dukungan juga merupakan faktor kritis dalam membangun komitmen dalam sebuah tim kerja, karena kita tahu bahwa masing-masing anggota mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk itu diperlukan rasa saling mendukung diantara sesama anggota tim kerja dan menciptakan sinergi dalam kelompok. Sikap mau bekerjasama dan saling mendukung akan menciptakan kebersamaan dan menutup jurang pemisah antara sesama anggota, dengan kata lain tidak adanya rasa superior dan inferior. Serta sikap profesional dari masing-masing anggota yang dapat memisahkan antara masalah pribadi dengan peran kerja dalam tim akan membentuk sebuah organisasi yang solid.

Kunci Sukses Kampanye Brand

Tidak sedikit pemasar yang mengalami kegagalan dalam meng-kampanyekan sebuah merek. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari masalah teknis di lapangan, sampai kesalahan di langkah awal. Yang paling sering terjadi adalah kesalahan menetapkan strategi, atau kebingungan ketika menangani produk yang secara segmentasi belum jelas.
     Umumnya, pemasar dalam melakukan strategi komunikasi tidak siap akan tiga hal. Pertama, menentukan apa yang hendak dikatakan kepada pelanggan (what to say); Kedua, memikirkan cara menyampaikan hal tersebut (how to say), dan Ketiga, adalah pertimbangan lokasi yang tepat dan kapan akan melakukannya (where to say). tetapi, kesalahan yang paling terjadi adalah pada faktor Pertama. Para marketing sering kali tidak tahu apa yang akan dikatakan kepada konsumen tentang produknya. Hal ini karena mereka tidak siap menghadapi perilaku konsumen dari target produknya. Sebagai contoh, ada pemasar yang menggunakan bahasa asing untuk mengomunikasikan produknya yang sebetulnya banyak dipakai untuk kalangan menengah kebawah. Juga pemakaian bahasa yang terlalu tinggi atau kemasan iklan yang sulit dicerna oleh audience, demikian menurut Darmadi Durianto, pengamat pemasaran dan pengajar Magister Manajemen di IBII. Sebaiknya, sebelum merancang kampanye harus diketahui dulu poin penting yang akan disampaikan kepada konsumen, karena yang perlu diperhatikan adalah diferensiasi produk (Perbedaan produk kita dengan yang lainnya). setelah menemukan diferensiasi produk, langkah selanjutnya adalah memikirkan bagaimana cara mengomunikasikannya kepada konsumen. Pada faktor ini, pemilihan kata yang tepat & menarik ikut menentukan keberhasilan sebuah kampanye produk.
     Masuk kepada faktor yang ketiga adalah, mengenai pemilihan media komunikasi atau kampanye yang tepat. Jika media yang dipilih salah, tudak sesuai dengan target market, maka seakurat apapun diferensiasi ditemukan dan sebagus apapun kalimat yang dirancang akan menjadi percuma.
Faktor pengaruh media sosial saat ini cukup membawa dampak pengaruh yang signifikan dalam mengangkat sebuah merek, jangkauan dan pengguna seperti Facebook dan Twitter yang sangat luas merupakan alternatif kampanye pilihan yang utama dewasa ini oleh para marketer dalam berkomunikasi dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
Tetapi semua tergantung dari produk itu sendiri dan kuatnya hasil riset serta kejelian dari pemilik brand.