January 3, 2015

Mendahulukan Pekerjaan Mendesak atau Yang Penting ?

Tulisan ini saya angkat ke blog ini, karena lingkup pekerjaan saya cukup sering dihadapkan dengan situasi seperti ini.

     Sebagai distributor atau wiraniaga kita selalu dihadapkan pada setumpuk pekerjaan yang harus dituntaskan setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulan. Pekerjaan itu berupa proses kerja mencapai sales target, melakukan kunjungan ke pelanggan, mencapai target effective call, menyusun daily sales coverage plan, membuka/menambah pelanggan baru, meningkatkan produktivitas pelanggan, membangun hubungan baik dengan pelanggan, atau menuntaskan rencana pembelian barang dari principal, dan ratusan jenis pekerjaan atau tugas lain.
     Sebagai pemilik usaha atau pimpinan puncak manajemen, ataupun sekedar staf atau karyawan, kita umumnya memiliki tiga jenis tugas, yaitu tugas yang bersifat teknis, taktis, dan strategis. Semakin tinggi jenjang kepangkatan atau jabatan seseorang, alokasi tugas akan lebih banyak mengarah ke tugas-tugas yang bersifat strategis, berdampak tinggi, lintas sektoral, fungsional, dan mencakup areal yang amat fundamental bagi survival, dan perkembangan perusahaan. Apabila kita berada pada posisi menengah organisasi sebagai penyelia atau seksi/departemen unit manajer, semakin banyak porsi pekerjaan yang bersifat taktis, yang merupakan kombinasi setengah teknis atau setengah strategis dalam tatanan teknis operasional, namun selalu bersifat unit kerja, atau bidang fungsional marketing, sales, promosi, distribusi, layanan pelanggan. Semakin rendah posisi kita, alokasi tugas atau pekerjaan kita akan semakin teknis.
     Tindakan apa yang akan kita ambil agar menjadi distributor atau sales yang sukses? Mendahulukan pekerjaan yang mendesak atau pekerjaan yang penting? Kalau dihadapkan dengan pertanyaan ini, mayoritas akan menjawab mendahulukan pekerjaan yang mendesak. Bersifat mendesak karena ada tengat waktu yang harus dipenuhi:

  • Kalau kita tidak menyelesaikan, maka beresiko dianggap tidak menjadi team player, tidak kooperatif, atau tidak suportif karena pekerjaan orang lain akan terhambat.
  • Dalam kondisi terdesak, rekan kerja cenderung sensitif, mudah panik dan kehilangan fokus serta konsentrasi yang bisa menimbulkan konflik.
  • Kita cenderung menganggap semakin banyak pekerjaan yang dapat kita selesaikan akan semakin dinilai berprestasi oleh atasan. Intinya kita lebih menghargai penuntasan pekerjaan dari aspek kuantitatif dari pada aspek kualitatif.
  • Akibat banyaknya pekerjaan mendadak yang datang ke meja kita yang harus diputuskan cepat / segera, namun karena ada pihak ketiga atau pemegang kepentingan lain menyalip saat kita sedang menyelesaikan pekerjaan sendiri, dan mereka meminta untuk menyelesaikan tugas lain karena bersifat segera.
  • Tanpa disadari, setiap bagian penjualan dan distribusi selalu dikejar dengan siklus target bulanan-entah itu target penjualan, target laba sehingga semua pekerjaan dipersepsikan harus tuntas sebelum tanggal 31 sebagai cut-off date nya, sehingga minggu IV dijadikan ajang penyelesaian tugas secara tergesa-gesa/ secepatnya agar selesai.
Melihat faktor-faktor diatas, tentu sah-sah saja apabila kita cenderung lebih menyelesaikan tugas-tugas yang mendesak. Namun, apakah itu berarti kita bekerja secara Pintar/Cerdik (work smart)?, apakah kita bekerja secara efektif? apakah berarti kita fokus dan terkonsentrasi dalam merealisasi rencana dan strategi bekerja kita?.
     Kita cenderung terjebak bekerja dalam konteks teknis dan taktis dari pada strategis. Kita mendahulukan penuntasan kuantitas penyelesaian tugas dari pada kualitas hasil kerja. Semua perhatian hanya mengarah kepada sales report dan pencapaian sales target (hasil akhir) dari pada memikirkan soal how to, strategi, maupun taktis yang tepat mencapai peningkatan pangsa pasar (proses kerja).
     Seorang pimpinan / eksekutif pada era modern ini dituntut lebih berpikir strategis, kritis, antipatif dan analitis agar bisa menelurkan keputusan-keputusan /problem solving yang jitu dan membuahkan gagasan yang kreatif dan inovatif, serta mampu membuat terobosan-terobosan yang bersinergi. Inilah pekerjaan yang Penting, ini yang harus didahulukan. Pekerjaan penting membutuhkan proses analis/berpikir/berkontemplasi yang relatif lama dan harus berkonsultasi,berkoordinasi, atau berdiskusi dengan banyak pihak.

Kesimpulannya :     work hard is a start, work smart takes you to the winner's podium (bekerja keras adalah langkah awal, bekerja cerdas/pintar akan mengantarkan Anda sebagai pemenang),




Diangkat dari tulisan : Bapak Yadi Budhisetiawan - Managing Director Force One | Majalah Marketing edisi 12

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar Disini...