February 17, 2015

BUYA HAMKA - Tokoh Panutan Umat

Menurut penuturan Buya Hamka sendiri kepada sahabatnya, nama Hamka adalah potongan dari nama lengkap dan nama sang ayah, yaitu Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ini konon merupakan nama akronim pertama bagi orang Indonesia.
Beliau dilahirkan dengan nama asli Abdul Malik di sungai batang, Maninjau pada 17 Februari 1908 (14 Muharram 1326 H) dari sang ayah seorang ulama terkenal di daerah minangkabau bernama Haji Abdul Karim Amrullah yang merupakan seorang tokoh pembaruan dalam Islam disaat itu terkenal dengan sebutan dari kalangan Kaum Muda.
    Usia kanak dan remaja beliau juga seperti umumnya anak-anak Maninjau umumnya yaitu rutinitas Baraja (belajar), Basikola (sekolah) dan Baguru (berguru). Saat itu cukup banyak anak-anak muda yang sekolah dan belajar sendiri dari buku-buku untuk menambah ilmu pengetahuan, namun untuk baguru (berguru) sangat sedikit yang melakukannya. Baguru (berguru) disini maksudnya adalah mencari seseorang yang memiliki kemampuan istimewa untuk dijadikan guru. Hal ini berbeda dengan belajar bersama seperti di sekolah, sebab proses yang berlangsung dalam mewariskan inti-inti ilmu yang belum tentu diberikan kepada rata-rata orang, dan sang guru pun biasanya sangat jeli, teliti dan selektif dalam memberikan ilmunya.
     Pada usia 16 tahun yaitu pada tahun 1924, Hamka memutuskan untuk merantau ke Yogyakarta dan berguru pada HOS Tjokroaminoto untuk mendapatkan ilmu pergerakan Islam secara modern. Dan beliau juga berguru pada A.R Sutan Mansyur yang juga merupakan kakak ipar beliau sendiri. Pada tahun 1925, A.R Sutan Mansyur pulang ke Sumatra Barat dan Hamka pun ikut pulang dan menemani Sutan Mansyur menjadi mubaligh dan menyebarkan ajaran Muhammadiyah di daerah Maninjau. Hamka yang bergelar Datuk Indomo ini memang sejak usia mudanya terkenal suka mengembara dalam menuntut ilmu, sehingga sang ayah menjuluki beliau dengan sebutan " 'Si Bujang Jauh'. 
     Buya Hamka pada tahun 1955 (Pemilu I) terpilih menjadi anggota dewan konstituante dari perwakilan Masyumi. Pada tahun 1960, beliau memfokuskan kegiatan dakwah dan memimpin jama'ah Masjid Agung Al-Azhar di Jakarta, disamping memikul tanggung jawab dalam organisasi Muhammadiyah pusat. Setelah Masyumi dibubarkan oleh Soekarno, Buya Hamka sempat menerbitkan majalah Panji Masyarakat yang akhirnya juga mendapat larangan terbit oleh pemerintah pada saat itu, karena memuat tulisan karya Muhammad Hatta yang berjudul "Demokrasi Kita". Atas dukungan Jenderal Sudirman dan Brigjen Muchlas Rowi, tahun 1962 Buya Hamka menerbitkan majalah Gema Islam yang berkantor di komplek Masjid Al-Azhar, Jakarta. Saat M. Natsir dan AR.Sutan Mansyur bersama teman-teman lainnya ikut dalam barisan PRRI dan berada di hutan, Buya Hamka melawan Bung Karno dari Bandung, sampai akhirnya ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara. Dan dalam penjara inilah, beliau menulis buku dan tafsir Al-Quran yang kemudian dikenal dengan Tafsir Al-Azhar.
     Pada tahun 1975 Buya Hamka diangkat menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan beliau menerangkan dasar-dasar toleransi agama kepada Presiden Soeharto kala itu di istana negara. Di hadapan Presiden dan 30 pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI), beliau menafsirkan dan menjelaskan maksud surat al-Mumtahanah dalam al-Quran ayat 7,8 dan ayat 9. dan dari proses dialog ayat ini kemudian dijadikan pedoman MUI dalam melaksanakan proses toleransi beragama.
     Ketokohan Buya Hamka sebagai pengarang dan penulis sudah tampak ketika Buya Hamka pertama kalinya terlibat sebagai wartawan pada tahun 1935. Beliau sempat menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat bersama rekannya M. Yunan Nasution yang juga terkenal sebagai pengarang pada masa sebelum perang dunia II atau bersamaan dengan hadirnya Angkatan Pujangga Baru. Sepanjang hidupnya, Buya Hamka selalu dipenuhi dengan berbagai aktivitas, mulai dari mengarang, berdakwah, berpidato menjadi wartawan dan sastrawan, serta berpolitik. Sehingga beliau pernah mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir pada tahun 1958 dan Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada tahun 1974.
     Buya Hamka meninggal pada bulan Ramadhan  1401 H, atau tepatnya pada hari Jum'at, 24 Juli 1981 pada pukul 11.00 WIB di RS Pertamina - Jakarta. Beliau meninggalkan seorang istri dan 9 putra-putri serta 21 orang cucu. 

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar Disini...