March 9, 2015

Bob Sadino: Sang Motivator Bisnis

Almarhum Bob Sadino adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya dari nol. Lelaki yang pada masa hidupnya tampil sederhana dan sering muncul dengan mengenakan celana pendek ini sebenarnya bukan berasal dari keluarga wirausaha. Bob Sadino menjadi wirausaha adalah karena "kepepet".
     Suatu hari, seorang temannya mengajaknya untuk memelihara ayam guna mengatasi depresi yang dialaminya akibat ketidaknyamanan hidup miskin. Kala itu, Bob yang sudah menikah memutuskan untuk menetap di Indonesia. Meski istrinya bergaji besar, namun Bob Sadino berprinsip bahwa dalam keluarga, laki-laki adalah pemimpin. Sejak saat itu, pekerjaan apapun akan dilakukannya. Mulai dari seorang sopir taksi yang pernah mobilnya hancur karena tabrakan, hingga sebagai kuli bangunan pun beliau lakoni dengan menerima upah saat itu Rp. 100,- perhari. Sampai akhirnya beliau memutuskan untuk usaha peternak ayam.
     Dan, dari memelihara ayam itulah, Almarhum terinspirasi bahwa "Kalau ayam bisa memperjuangkan hidupnya dan mencapai target berat badan, serta bertelur. tentunya manusia pun bisa". Inspirasi tersebut ia tanamkan ke dalam diri dan menumbuhkan tekad bahwa ia tidak mau menjadi pegawai atau bekerja dibawah perintah orang!.
     Pada awal menjadi peternak ayam, Bob Sadino bersama istrinya menjual beberapa kilogram telur per hari hanya dalam waktu setengah tahun. Dalam kurun waktu itu, beliau sudah mendapatkan relasi yang cukup banyak. Untuk itu ia harus selalu menjaga kualitas dagangannya. Berbekal kemampuan berbahasa asing yang cukup dikuasainya, ia berhasil mendapatkan pelanggan orang-orang asing yang tinggal di daerah kawasan Kemang, tempat kediaman Bob Sadino waktu itu. namun tidak jarang pula ia dan istrinya di caci maki oleh pelanggan, bahkan oleh seorang pembantu. Tapi ia sadar, bahwa ia adalah pemberi sevis yang berkewajiban memberikan pelayanan yang baik. Sejak saat itulah ia mengalami titik balik dalam sikap hidupnya, yang awalnya dari seorang yang bersikap feodal sampai menjadi seorang servant yang ia anggap sebagai kekuatan modal yang laur biasa yang dimilikinya.
     Lambat laun, usaha Bob Sadino pun berkembang menjadi supermarket, berkat pelayanan yang baik kepada pelanggan. Selain telur, ia juga menjual garam, merica, dan makanan jadi. Bisnis Bob Sadino akhirnya merambah ke Agribisnis, khususnya Holtikultura. Beliau melakukan kerjasama dengan petani di daerah. Lalu kemudia beliau mengelola kebun sayur mayur untuk konsumsi orang-orang Jepang dan Eropa.
Bob Sadino yang sempat melanglang buana selama hampir sembilan tahun di Amsterdam dan Hamburg itu percaya: "Setiap langkah sukses selalu diimbangi dengan kegagalan". Bagi Bob, uang itu adalah nomor sekian, yang terpenting adalah kemauan, komitmen tinggi, dan selalu bisa menemukan serta mengambil peluang. Beliau berkesimpulan, bahwa saat melakukan sesuatu pikiran kita berkembang, karena itu rencana tidak harus selalu baku dan kaku. Apa yang ada dalam diri kita adalah pengembangan dari apa yang telah kita lakukan.
"Kelemahan banyak orang, terlalu banyak berfikir membuat rencana, sehingga ia tidak segera melangkah "-Bob Sadino-
Keberhasilan Bob Sadino memang tidak terlepas dari ketidaktahuannya, sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Namun setelah mengalami jatuh bangun, ia justru menjadi trampil dan menguasai bidangnya.
"Banyak orang memulai dari ilmu berpikir dan bertindak serba canggih, dan bersikap arogan. Karena, mereka merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain"-Bob Sadino-
Bob Sadino selalu bersikap luwes terhadap siapapun pelanggannya dan mau mendengarkan saran maupun keluhan dari para pelanggannya. Beliau yang sempat mengikuti kuliah di Fakultas Hukum UI selama beberapa bulan ini mendapat simpati dari pelanggan dan menciptakan pasar.
"Kepuasan pelanggan akan membawa kepuasan pribadi pada saya untuk selalu berusaha melayani klien sebaik-baiknya".

Itulah sosok Almarhum Bob Sadino yang semasa hidupnya menjadi tempat bertanya dan guru bagi para entrepreneur-entrepreneur muda negeri ini. Selamat jalan Om Bob!.
(end)







Sumber: Buku Valentino Dinsi dan dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar Disini...