March 7, 2015

Soichiro Honda: Montir yang menjadi bos industri mobil Jepang

Selama hidupnya, Soichiro Honda terkenal sebagai penemu. Ia memegang hak paten lebih dari 100 penemuan pribadi. Yang pertama, ia menemukan teknik pembuatan jari-jari mobil dari logam. Ketika itu, mobil-mobil di Jepang memakai jari-jari kayu yang mudah terbakar. Perusahaan-perusahaan Jepang segera mengekspor jari-jari logam itu sampai ke India. Pada umur 25 tahun, ia memperoleh keuntungan 1000 yen perbulan.
     Sejak kecil, sebelum masuk sekolah, anak sulung dari sembilan bersaudara ini sudah senang membantu ayahnya di bengkel besi. Ia juga sangat terpesona melihat dan mendengar suara mesin penggiling padi yang terletak beberapa kilometer dari desanya. Ayahnya Gihei Honda, mempunyai keterampilan dalam menangani mesin, dan keahlian itu menurun pada Soichiro Honda.
     Di sekolah prestasinya rendah, dan ia tidak suka membaca maupun mengarang. Dan juga sering membolos. Namun, bakat sains nya mulai terlihat menonjol pada kelas lima dan enam. Di Jepang, dalam pelajaran kelas-kelas sains sudah di munculkan benda-benda seperti: baterei, timbangan, tabung reaksi, dan mesin. Soichiro Honda dalam hal ini sangat mudah menangkap pelajaran dari gurunya dan ia pun sangat mudah menjawab pertanyaan seputar sains tersebut.
     Pada waktu pertama kali melihat mobil saat itu, ia begitu antusias. "Ketika itu saya lupa segalanya. Saya mengejar mobil itu dan berhasil bergelantungan sebentar dibelakang mobil. Saat mobil itu berhenti, pelumas menetes ke tanah. Saya mencium tanah yang dibasahinya, barangkali kelakuan saya persis seperti anjing. Lalu pelumas tersebut saya usapkan ke tangan dan lengan saya. Dan di saat itulah timbul keinginan, kelak akan membuat mobil sendiri" kenang Soichiro Honda.
Soichiro Honda hanya bersekolah selama 10 tahun. Sesudah lulus SD, anak nakal ini dikirim ke sekolah menengah pertama di Futumata, tidak jauh dari kediamannya. Setelah lulus sekolah menengah tersebut, ia pulang ke rumah ayahnya. Ayahnya (Gihei Honda) saat itu sudah beralih dari pandai besi ke pengusaha bengkel sepeda. Pada salah satu majalah kepunyaan ayahnya, Soichiro melihat sebuah iklan, bahwa bengkel mobil di Tokyo sedang mencari karyawan. Dan Soichiro pun ikut pergi melamar pekerjaan itu. Dan ia pun diterima!
     Beberapa waktu kemudian, Soichiro Honda memutuskan untuk mendirikan bengkel sendiri. Soichiro Honda yang tidak tahu banyak mengenai uang waktu itu hanya mendapat keuntungan sedikit sekali pada tahun pertama. tetapi, honda merasa beruntung karena bengkelnya sukses. Ia memutuskan untuk menabung dan memperkirakan mampu mengumpulkan sampai 1000 yen.
Selama sejarahnya, perusahaan Honda hanya pernah mengalami pemogokan sekali pada tahun 1954. Ketika itu, Honda dan manajemen di satu pihak menghadapi pekerja-pekerja dan adik Honda di pihak lain. Namun, sebagai layaknya perusahaan di Jepang, Semuanya itu dapat diselesaikan melalui musyawarah.
     Tahun 1973, Honda pindah ke pasaran kendaraan roda empat, untuk tetap bisa mengembangkan jumlah penghasilan perusahaan. Pada masa Honda, stafnya bertambah 10% setiap tahun. Kalau mereka bertambah tua, beban perusahaan akan bertambah berat, Padahal Honda ketika itu menghadapi persaingan berat dipasaran dalam dan luar negeri.
     Ia tetap memegang saham terbesar di perusahaannya, ketika mengundurkan diri pada tahun 1973. Penghasilannya mendekati 1,7 miliar dolar. Walaupun sudah pensiun, perkataan Honda masih didengar oleh perusahaannya. Ucapannya yang terkenal adalah: "Masa industri Jepang bukan ditentukan oleh kecepatan, tetapi oleh mutu barang yang kita buat dan pengaruhnya terhadap kepentingan sesama manusia. Kalau kita membuat barang yang menyebabkan banyak polusi, kemungkinan kita akan untung. Tetapi hanya sebentar dan setelah itu akan bangkrut. Kami di perusahaan Honda sering bergurau, "enak juga ada perusahaan-perusahaan besar yang kerjanya hanya memikirkan untung besar saja. Akibatnya, perusahaan-perusahaan kecil seperti Honda mendapat kesempatan untuk membuat barang yang baik".
Itu Soichiro Honda (end)








Sumber : Buku Valentino Dinsi dan sumber lainnya. 

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar Disini...