January 7, 2016

Hindari 5 Kesalahan ini Dalam Negosiasi Bisnis



Sebagai pelaku bisnis, usahawan, tenaga pemasaran atau pun sebagai karyawan kita sering dihadapkan dengan hal negosiasi. Entah itu untuk kontrak proyek, memasarkan produk maupun soal kenaikan gaji. Dalam negosiasi, kita harus memberikan argumen yang cukup logis dan tidak berbelit-belit. Kunci keberhasilan dalam ber-negosiasi adalah ketika kita mempunyai rencana dan strategi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di duga.
Namun, banyak negosiasi yang akhirnya tidak berlanjut atau gagal karena beberapa hal sebagai berikut:

  • Menyampaikan Argumen Palsu
Menyampaikan argumen atau pernyataan yang tidak sesuai dengan realita subyek nya. Entah itu menawarkan sebuah proyek atau sebuah produk, yang mana kenyataan yang terjadi tidak seperti kenyataannya, hal ini justru memperlemah posisi kita sehingga pihak lain akhirnya mundur dari negosiasi.
  • Membandingkan Konsekuensi
Ini yang banyak terjadi dan merupakan salah satu kesalahan fatal ketika negosiasi sudah sampai pada puncak akhir kesepakatan. Ini menyangkut tingkat emosi atau semangat dalam negosiasi, yang menyatakan bahwa Anda akan siap menanggung konsekuensi bisnis mana kala nantinya terjadi hal-hal atau kendala yang tidak terduga menyangkut hasil negosiasi tersebut. Kenapa? karena hal ini akan menyudutkan dan menyulitkan posisi kita sendiri. Buatlah kesepakatan bersama jika terjadi sesuatu hal yang tidak terduga tersebut agar masing-masing posisi merasa bertanggung jawab.


  • Ad Hominem
Ad Hominem adalah jenis atau istilah dari kesalahan dalam menyerang 'karakter' pihak lain daripada argumentasinya. Ini akan jadi bumerang karena menyalahkan karakter orang lain untuk menutupi kesalahan sendiri. Memakai data yang logis dalam menyampaikan argumen sendiri atau mematahkan argumen pihak lain akan membuat kita lebih dihargai.
  • Ragu-Ragu
Saat ber-argumentasi, hilangkan keraguan dalam hati dan pikiran. Karena hal ini akan membuat kita lemah. Misalnya dalam argumentasi kenaikan jabatan, Anda takut atau ragu-ragu untuk menjawab 'Iya' dengan alasan bahwa nantinya akan mendapat tanggung jawab yang lebih dan hal itu tidak Anda inginkan.

  • Hubungan Sebab-Akibat
Argumen ini merupakan salah satu perangkap yang akan menjatuhkan. Misalnya dalam hal kenaikan gaji. Anda menyampaikan argumentasi untuk meminta kenaikan gaji karena produktivitas kerja, tetapi Anda tahu bahwa hal tersebut belum memungkinkan karena anggaran perusahaan belum memungkinkan untuk melakukan itu. Tetapi Anda tetap berusaha memaksakan argumen bahwa produktivitas kinerja Anda lebih penting dari pada anggaran perusahaan, maka hal ini sama dengan memanipulasi argumen.




sumber : laruno.com

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar Disini...