4 Februari 2016

Bagaimana Membangun Brand Agar Dikenal dan Dipuja


Saya selalu ingin tahu kenapa ada brand-brand tertentu yang begitu di cintai dan dipuja-puja oleh konsumennya. Dan di lain pihak ada juga brand yang tidak mempunyai ikatan emosi dengan konsumen, bahkan ada beberapa yang tidak disukai.
Berdasarkan desk research yang dilakukan oleh Budi P. kartono seorang Konsultan merek dan penulis buku Brand Genius, terhadap 100 merek untuk menemukan apa hubungan antara berbagai merek yang begitu dicintai, hasilnya di simpulkan berupa 3 esensi vital yang menghubungkan satu sama lainnya.

Pertama, Sebuah merek harus Unique.
Merek harus punya keunggulan dan perbedaan yang berarti dibandingkan pesaing. Keunikan akan melepaskan merek dari banyaknya komoditi produk yang sulit dibedakan dari segi fungsi dan harganya. Apple misalnya, keunikan brand Apple adalah dari segi desain produknya yang simpel. Merujuk pada Johannes Kepples yang mengatakan, "Nature Loves simplicity and unity".
     Lexus membangun keunikannya dengan menciptakan "standar kemewahan baru untuk mobil kelas atas", dan sebanyak 1.400 desainer, 3.700 engineer serta 900 prototype mesin dikerahkan untuk mewujudkan "Pursuit of perfection" itu.
     Keunikan Disneyland ada di tiap theme park yang mereka klaim tidak ada duanya di dunia. Mulai dari Main Street, Adventure Land, New Orleans Square, sampai dengan Tomorrow Land, merupakan theme park yang hanya ada di Disneyland. Gary Hamel dari London Business School menegaskan ,"You don't have to be the biggest to be the most profitable, but you have to be the most differentiated".

Kedua, Sebuah merek mempunyai ikatan Emotion.
Merek yang dicintai mempunyai hubungan emosi yang kuat dengan konsumennya. Emosi tersebut bisa berupa senang, sedih, cinta, bangga, dan lain-lain. Penggunaan suara, bentuk dan warna, bau rasa dan sentuhan, akan memicu emosi. Steve Jobs mengatakan, "We made the buttons on the screen look so good, you'll want to lick them". Nicholas Schilling, konsumen Lexus mengatakan, "Pertama-tama saya terkesan dengan desainnya, namun begitu mendengar suara mesinnya saya langsung merasakan bahwa inilah mobil impian saya".
     Disneyland juga memanfaatkan emosi lewat ketegangan waktu kita menaiki Roller Coaster, sensasi di Space Mountain dan ketakutan di Haunted Mansion. Pemenang Nobel Prize, Daniel Kahneman memberikan kesimpulan, "Emotion, not reason, is the primary factor in economic desicion".

Ketiga, Sebuah merek harus Creative.
Merek yang dipuja konsumen akan terus menciptakan keunggulan dan kebutuhan baru untuk pelanggannya. Mereka sangat kreatif sehingga mampu memberikan brand experience yang baru, menyenangkan dan mengejutkan. Kreatifitas akan menghasilkan terobosan inovasi yang mampu membuahkan keunikan-keunikan baru. Apple mengandalkan " the wisdom of crowds" dengan mengadakan acara Top 100 yang diikuti oleh 100 karyawan yang sudah diseleksi untuk berkumpul, bertukar pikiran dan berkolaborasi untuk menghasilkan berbagai ide genius. Lexus melakukan Deep Diving ke dalam hidup konsumennya dengan mempelajari hidup mereka. Disneyland membentuk Imagineering, dimana lebih dari 2000 orang yang ahli di berbagai bidang seperti penerbangan, kecerdasan buatan, anatomi syaraf, ahli matematika, untuk menghasilkan ide-ide kreatif. Daniel Pink menyebut abad 21 ini sebagai 'Masa Konseptual', dimana aktor utamanya adalah pekerja kreatif yang perlu tahu cara melakukan inovasi dan pencipta gagasan.








sumber: Budi P. Kartono - Brand Consultant | Majalah Marketing

1 Februari 2016

Makin Ketatnya Persaingan Bisnis di Tahun 2016

Perkembangan yang terjadi sekarang ini telah menciptakan persaingan yang semakin ketat, tidak hanya persaingan dengan kompetitor langsung tetapi juga dengan kompetitor dari kategori lain. Artinya, jika dulu hanya bersaing dengan pemain dengan bidang kategori bisnis yang sama, dan saat ini muncul pesaing bisnis dari kategori yang berbeda.
Perusahaan transportasi taksi seperti Blue Bird kini harus menghadapi tantangan baru dengan kehadiran Uber Taxi, Gojek, Grab Taxi, dan lain-lain. Tak hanya bersaing di jalan raya, namun sekarang juga bersaing pula di online market.
Konsumen pun kini bisa memesan transportasi maupun ojek melalui aplikasi online. Tidak hanya nyaman tanpa harus menunggu di pinggir jalan raya, namun juga respon yang cepat melalui aplikasi online ini.
Hal yang sama juga dirasakan oleh para pemain department store. Seperti Matahari misalnya dulu bersaing dengan Dept. Store lain dengan cara menambah sebanyak-banyaknya outlet, namun kini lokasi persaingan mulai diramaikan dengan muncul banyaknya online fashion store seperti Lazada, Zalora, dan lainnya, dan ini memaksa Matahari untuk mengubah strategi market nya dengan mendirikan MatahariMall.com agar tidak kehilangan konsumennya.
     Ledakan media menyebabkan zona kompetisi tidak lagi memanfaatkan media konvensional. Kompetisi dalam bidang komunikasi ini membutuhkan pendekatan yang berbeda. Jika sebelumnya iklan hanya membutuhkan pendekatan satu arah, dengan marak munculnya media social maka pendekatan iklan membutuhkan komunikasi dua arah. Sehingga banyak pemain bisnis mulai meninggalkan kompetisi lewat iklan televisi dan memilih berperang melalui media sosial karena dianggap lebih personal dan langsung ke pasar sasaran.

Adaptasi atau Menghindar?
     Lalu apa yang harus dilakukan oleh para pemegang merek dan marketer dalam menghadapi situasi kompetisi ini?. Para pemain bisa melakukan strategi dengan cara beradaptasi dengan situasi seperti yang dilakukan Matahari yang coba masuk ke dalam ranah online melalui MatahariMall.com. Begitu juga dengan Blue Bird yang masuk kedalam aplikasi online untuk pemesanan taksi.
Strategi lain juga bisa dilakukan dengan bergeser ke zona kompetisi yang belum terimbas oleh pertarungan tersebut, seperti yang dilakukan oleh merek Canon. Merek ini menyadari bahwa keberadaan kamera smartphone mengancam segmen kamera entry level, jikalau ikut bersaing di segmen ini maka hal ini bisa membuat Canon akan "dihajar" oleh pemain-pemain diluar merek kamera, namun untuk kamera yang high end dan profesional masih memungkinkan bagi Canon untuk bersaing, maka merek ini pun mencoba untuk mempertahankan segmen ini.
Strategi menghindar dari persaingan bisa dilakukan dengan value added innovation. Misalnya yang dilakukan oleh penyedia jasa travel dengan tidak lagi fokus hanya untuk penjualan tiket, tetapi bisa melakukan penjualan paket-paket tur untuk rombongan, bisnis serta bisa menjadi travel konsultan untuk mencoba unggul dalam market ini.
     Strategi kolaborasi juga bagus diterapkan dalam menghadapi persaingan pasar. Seperti misalnya sebuah mini market yang bekerjasama dengan perusahaan kereta api atau penerbangan melakukan penjualan tiket. Begitu juga dengan Penyedia layanan seluler harus bekerja sama dengan merek ponsel untuk memperbesar pasar. Atau juga sebuah usaha busana bekerja sama dengan pabrik tekstil.
Memang, ketika menghadapi situasi kompetisi yang makin sengit ini, mencari kawan lebih baik dari pada mencari musuh.





Dari berbagai sumber