December 9, 2016

Ketekunan Mooryati Soedibyo Dalam Membangun Usaha Jamu Tradisional

Namanya melambung seiring dengan popularitas produknya. Siapa yang tidak kenal dengan Mooryati Soedibyo?, produsen berbagai ragam jamu dan kosmetik tradisional ini adalah wanita pengusaha yang merintis bisnisnya dari membuat jamu beras kencur, kini paling tidak tercatat sebagai direktur utama dari empat perusahaan raksasa. Namun bisnis utamanya sebagai produsen jamu dan kosmetik tetap menjadi andalannya.

Cucu dari Raja Surakarta, Susuhunan Pakubuwono X ini memulai usahanya juga dari sebuah garasi dirumahnya yang awalnya hanya di temani oleh dua orang pembantunya sebagai karyawan pada tahun 1973. Ramuan pertama yang dibuat adalah kunyit asam yang merupakan hasil racikan asam jawa, gula jawa dan cengkeh. Produksi yang dilakukan pun secara manual. Hasilnya pun kurang memuaskan konsumen, salah satunya seperti ukuran pil yang tidak sama. Setelah berpikir keras bagaimana solusinya akhirnya Mooryati membeli mesin dari Taiwan untuk dapat memproduksi secara cepat dan bentuk yang standar seragam.
     Setelah berbagai macam kendala satu persatu bisa diatasi, perkembangan usaha jamunya pun mulai dikenal oleh masyarakat yang seiring pada masa itu adanya gerakan kesadaran kembali ke alam. Produksinya tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat, tapi juga diterima luas sampai kenegara Jepang dan Timur Tengah. Jamu tradisional tidak lagi sekedar industri rumah tangga, namun sudah tumbuh menjadi industri sekaligus eksportir raksasa. Kemudian pada tahun 1976, Ibu Mooryati membuka usaha salon di daerah Wahid Hasyim 133 dengan nama Pusat Perawatan Kecantikan Tradisional yang diklaim sebagai salon pertama di Indonesia sebagai perawatan tradisonal yang mengajarkan para pemilik salon dan ahli kecantikan menggunakan lulur, mangir, bedak dingin, rempah-rempah dan minyak cendana dan zaitun, disamping menggunakan perawatan modern.
     Roma memang tidak dibangun dalam satu hari, begitu juga dengan usaha jamu kecantikan tradisional milik Ibu Mooryati ini. Berkembangnya produksi menyebabkan adanya timbul masalah lain, para karyawan yang sudah mencapai 50 orang yang bekerja hingga malam hari tidur di rumah milik pribadinya yang sempit, Privasi keluarga mulai terganggu, sehingga pada tahun 1981, Ibu Mooryati yang menikah dengan Bapak Soedibyo ini memutuskan untuk mendirikan pabrik didaerah Ciracas yang diresmikan langsung oleh Menteri Kesehatan pada waktu Soewardjono Soeryaningrat. Pendirian pabrik ini sempat mengalami kendala dana, sehingga Ia memutuskan untuk mengambil kredit dari Bank Dagang Negara sebesar 100juta rupiah.
     Dengan berdirinya pabrik ini, juga ditandai dengan lahirnya nama "Mustika Ratu", dan untuk melengkapi organisasinya Ia pun membentuk pemimpin-pemimpin yang strategis, seperti: Pimpinan produksi, Penelitian dan Pengembangan (R & D), Distribusi, Keuangan dan pimpinan Pemasaran. Untuk menjamin mutu, bahan bakunya dibeli dari Solo, Jawa Tengah. Pada masa itu, Ibu Mooryati harus bolak-balik Jakarta - Solo sekali dalam seminggu. Berkat kegigihannya ini, Mustika Ratu melahirkan sejumlah brand yang mempunyai target pasar yang berbeda, seperti Puteri, Biocell, Moors, dan Taman Sari Royal Heritage Spa.
     Tahun 1994, Ibu Mooryati Soedibyo meraih penghargaan dari The Asian Institute of Management (AIM) di Manila, Filipina. Beliau terpilih sebagai seorang wanita pengusaha Asia yang berhasil menerapkan prinsip manajemen modern (walaupun produknya tradisional) dalam bisnis. Penghargaan ini membuktikan bahwa ketekunan dalam bekerja akan membawa hasil yang besar dan sukses.


dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar Disini...