February 17, 2020

Percayailah Intuisi Anda


Dalam bisnis, keputusan yang berdasarkan intuisi seringkali lebih superior dari pada yang berdasarkan penalaran analistis. Anda bisa dengan rajin membaca statistik, laporan pemasaran, lembur kerja, dan proyeksi penghasilan, tapi terkadang Anda hanya harus mempercayai naluri saja.
Entreprenuer memilih menyebut intuisi sebuah perasaan terdalam (good feeling) atau firasat (hunch) ketika tahu sesuatu akan berhasil. Tapi William Heinecke lebih suka meng-istilahkannya dengan menghindari keras kepala dan mendengarkan dengan pikiran terbuka kepada apa yang dikatakan orang lain.

"Haruskah saya membuka rumah makan Padang?" Itulah pertanyaan yang sempat muncul dalam benak Purdi E. Chandra saat itu ketika ide semacam itu ia lontarkan pada orang lain, mereka pesimistis. "Mengapa Anda membuka bisnis rumah makan Padang, bukankah bisnis tersebut sudah menjamur?". berbagai komentar pesimis itu membuat Purdi kian tertantang untuk membuktikannya. Padahal ia sebelumnya belum pernah sama sekali terjun ke bisnis rumah makan. Dan ia sendiri yakin ada peluang bisnis di usaha tersebut. Dan akhirnya ia memang berhasil di dalam usaha rumah makan tersebut dengan membuka puluhan cabang di kemudian hari.

Di dalam mengambil keputusan seperti itu, pertimbangan intuisi rupanya lebih peka dibandingkan pertimbangan rasional. Memang sebagai entreprenuer kita harus berani menggunakan intuisi secara efektif, baik untuk pengambilan keputusan dalam bisnis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun kemungkinan kini tidak menyadari prosesnya, bahwa setiap keputusan yang dibuat dengan menggunakan intuisi ini hanya salah satu contoh dari sekian banyak pengalaman dalam dunia bisnis.

Intuisi menjadi sangat penting, tidak hanya untuk kepentingan sekarang, namun juga untuk kepentingan masa depan. Sebagai entreprenuer, disukai atau tidak, harus tajam dalam intuisi. Kita harus mampu berpikir cepat, dan akhirnya mampu mengambil keputusan yang tepat. Ada sesuatu yang unik pada intuisi, yakni berlawanan dengan proses nalar. Proses intuisi itu tidak linier (bermacam-macam pola), sedangkan proses rasional adalah linier. Itu sebabnya, mengapa kebanyakan entreprenuer dalam setiap mengambil keputusan dalam bisnis sering mengambil kejutan, tidak rasional dan berani mengambil resiko. Antara intuisi dan irasionalitas saling berkaitan. Sebagian keputusan yang kita ambil merupakan campuran berbagai macam ingatan, gagasan, perasaan dan fakta yang terkadang saling bertentangan.

"Intuisi adalah analisa kilat dari fakta dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman sebagai filter"

Dalam dunia bisnis, dikenal ada "intuisi bisnis". Didalamnya terkandung wawasan, pengalaman, mental, dan perasaan. mereka yang dianugerahi intuisi bisnis yang tajam, tidak hanya mampu mengandalkan perasaan, tapi juga wawasan yang luas, pengalaman dan mental.


No comments:

Post a Comment

Silahkan Komentar Disini...